Laporan terbaru dari BestBrokers mengungkapkan kenyataan pahit: Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara paling sulit bagi warganya untuk memiliki rumah. Dalam riset terhadap 62 negara, BestBrokers membandingkan harga rumah per meter persegi dengan pendapatan tahunan masyarakat. Hasilnya menunjukkan ketimpangan besar antara harga properti dan daya beli masyarakat Indonesia.
Negara yang paling tidak terjangkau adalah Turki, disusul oleh Nepal, India, lalu Indonesia. Sebaliknya, negara seperti Afrika Selatan dan Amerika Serikat dinilai paling terjangkau karena rasio harga rumah terhadap gaji yang rendah.
Keterjangkauan Rumah di Beberapa Negara Berdasarkan BestBrokers
| Negara | Suku Bunga Hipotek | Pendapatan Rata-rata (bulan) | Harga Rumah Rata-rata |
|---|---|---|---|
| Turki | ~17,3% | Rp8,9 Juta | Rp3,9 Miliar |
| Nepal | ~10,0% | Rp4 Juta | Rp2,3 Miliar |
| India | ~8,5% | Rp5,4 Juta | Rp2,2 Miliar |
| Indonesia | 6,0–6,25% | Rp4 Juta | Rp3 Miliar |
| Armenia | ~10% | Rp6,7 Juta | Rp4,5 Miliar |
| Korea Selatan | ~3,5 | Rp36,2 Juta | Rp16,6 Miliar |
| Peru | ~7,0 | Rp9,5 Juta | Rp2,5 Miliar |
| Rep. Dominika | ~9,0 | Rp8 Juta | Rp2,2 Miliar |
| Brasil | ~10,0 | Rp10,8 Juta | Rp2,2 Miliar |
| Chile | ~5,0 | Rp13,5 Juta | Rp3,6 Miliar |
Sumber Data: BestBrokers, The Jakarta Post, Pinhome, Indonesia Sentinel
Namun, laporan ini juga menyoroti bahwa keterjangkauan rumah bisa sangat bervariasi antar wilayah dalam satu negara. Dengan kata lain, kondisi di Jakarta mungkin berbeda jauh dengan kota-kota lain seperti Yogyakarta atau Medan.
Gen Z Makin Sulit Punya Rumah: Gaji Stagnan, Kredit Ketat
Kondisi ini semakin menekan generasi muda, terutama Gen Z di Indonesia. Menurut Novita Ratna Satiti, pengamat dari Universitas Muhammadiyah Malang, generasi ini menghadapi stagnasi gaji, sulitnya akses kredit, dan tidak sedikit yang bekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial.
“Kenaikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan syarat pinjaman yang makin ketat membuat Gen Z semakin jauh dari mimpi memiliki rumah sendiri,” jelas Novita.
Selain itu, dampak ekonomi pascapandemi masih dirasakan, memperparah situasi keuangan anak muda. Banyak dari mereka bahkan mulai mempertanyakan apakah rumah pribadi masih realistis untuk dimiliki, atau hanya menjadi mimpi yang diturunkan dari generasi sebelumnya.
Krisis Perumahan dan Masa Depan yang Tak Pasti
Tingginya harga rumah yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat menciptakan krisis keterjangkauan perumahan. Generasi muda yang seharusnya menjadi pilar pembangunan justru terjebak dalam siklus sewa, cicilan mahal, atau bahkan kembali tinggal bersama orang tua.
Meskipun pemerintah memiliki sejumlah program subsidi perumahan, hambatan struktural seperti birokrasi, keterbatasan dana, dan ketidaksesuaian kebutuhan generasi muda masih menjadi persoalan besar.
Kondisi ini menuntut solusi konkret dan kolaboratif antara pemerintah, sektor perbankan, serta pengembang properti agar mimpi memiliki rumah tidak hanya jadi utopia di kalangan Gen Z

















































