Rupiah Melemah ke Rp17.100, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

dottcom.id – Tekanan terhadap rupiah kembali terasa saat mata uang domestik itu menyentuh level psikologis baru. Rupiah tembus Rp17.100 per dolar pada perdagangan Selasa (7/4), mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik yang belum mereda.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 15.30 WIB, rupiah berada di level Rp17.100 per dolar AS. Posisi ini sebenarnya menunjukkan penguatan 65 poin atau 0,38 persen dibandingkan sebelumnya, setelah sempat melemah pada awal perdagangan.

Di pagi hari, rupiah sempat berada di level Rp17.035 per dolar AS atau melemah 55 poin setara 0,32 persen. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas yang cukup tinggi dalam satu hari perdagangan.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen pasar masih didominasi sikap risk off. Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama.

“Sentimen risk off oleh kekhawatiran eskalasi perang di timur tengah, walau investor umumnya masih terpecah, beberapa lebih mengharapkan perdamaian, beberapa mengantisipasi eskalasi,” kata Lukman.

Lonjakan harga minyak mentah turut memperberat tekanan. Kondisi ini dinilai berpotensi membebani anggaran pemerintah, terutama di tengah kebijakan harga BBM yang belum mengalami penyesuaian.

“Harga minyak mentah yang naik terus akan semakin membebani anggaran pemerintah terlebih tidak dinaikannya harga bbm, investor memperkirakan defisit akan tetap melewati 3 persen walau anggaran MBG dikurangi,” ujarnya.

Pengamat pasar Desmond Wira melihat tekanan terhadap rupiah lebih kompleks. Faktor global dinilai menjadi dominan, terutama akibat kenaikan harga minyak yang sempat menyentuh kisaran USD 110–115 per barel.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak harus meningkatkan pembelian energi dari luar negeri. Kondisi ini otomatis mendorong permintaan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.

Selain itu, dolar AS menguat karena investor global beralih ke aset safe haven. Ketidakpastian global membuat dana mengalir ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Tekanan juga datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Ekspektasi bahwa bank sentral AS belum akan menurunkan suku bunga membuat dolar tetap kuat di pasar global.

Dari dalam negeri, kebutuhan impor valuta asing yang tinggi ikut memperbesar tekanan. Permintaan dolar meningkat untuk impor energi, barang konsumsi, hingga pembayaran dividen perusahaan asing.

“Kebutuhan impor valas yang tinggi: Selain minyak, ada permintaan dolar untuk impor barang lain, pembayaran dividen perusahaan asing, dan belanja rutin pemerintah/swasta di awal tahun/bulan,” kata Desmond.

Pasar juga mulai mengkhawatirkan dampak kenaikan harga minyak terhadap kondisi fiskal. Beban subsidi energi berpotensi meningkat dan memperlebar defisit anggaran.

Di sisi lain, arus modal keluar dari pasar domestik semakin menambah tekanan. Investor asing cenderung menarik dana dari obligasi dan aset keuangan Indonesia menuju instrumen di negara maju.

“Arus modal keluar (capital outflow), investor asing cenderung keluar dari aset Indonesia (obligasi/SBN) menuju aset yang lebih aman di negara maju,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih dibayangi ketidakpastian global. Selama tekanan eksternal belum mereda, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas.