Anak-anak masa kini tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Lahir sebagai digital native, mereka sudah terbiasa dengan gadget bahkan sejak usia dini, dan mampu mengoperasikan perangkat digital sebelum bisa membaca lancar.
Menurut laporan GNFI, Sani Budiantini Hermawan, Psikolog dan Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, memaparkan empat karakteristik utama anak di era digital dalam kegiatan Bootcamp Gerakan 100 Komunitas Tanpa Gadget.
- Mahir Teknologi Sejak Balita
Anak-anak sekarang sangat cepat menyerap kemampuan teknis. Mereka bisa mengedit video, mencoba aplikasi baru, dan bermain game rumit dengan mudah—bahkan mengungguli orang tuanya. Sani menjelaskan bahwa anak-anak memiliki ketajaman visual yang tinggi terhadap gadget.
Contohnya, cukup melihat sekilas password di layar, mereka bisa langsung menirukannya. Namun, kemampuan teknis ini belum tentu diiringi dengan kebijaksanaan dalam penggunaannya, terutama saat menjelajahi internet dan media sosial.
- Bebas Berpendapat tapi Minim Filter
Di era kebebasan berinternet, anak bisa langsung berkomentar dan menyuarakan pendapat tanpa melalui proses berpikir matang. Sani mengingatkan bahwa tanpa pengawasan, mereka bisa menulis komentar yang rasis atau bahkan mengandung unsur pelecehan seksual.
“Sekarang anak tinggal buka internet, tinggal ketik, langsung komentar. Ini pentingnya pengawasan,” tegasnya.
- Lebih Kritis, Tapi Perlu Pendekatan Logis
Kelebihan lain anak digital adalah pola pikir mereka yang lebih kritis karena terbiasa mengakses informasi luas. Namun ini juga membuat mereka tidak mudah menerima argumen tanpa bukti. Orang tua kini harus menyertai data jika ingin didengarkan oleh anak.
“Kalau tidak ada pembuktian, anak tidak akan menerima,” ujar Sani.
- Terjebak Standar Sosial, Rawan People Pleaser
Sisi gelap dari era digital adalah tekanan sosial yang berlebihan. Media sosial membuat anak-anak lebih sering membandingkan diri mereka dengan orang lain. Akibatnya, mereka bisa menjadi people pleaser, mengalami overthinking, hingga berujung pada tindakan self-harm.
“Mereka bisa menyakiti diri sendiri saat merasa tidak memenuhi ekspektasi sosial,” ungkap Sani.
Orang Tua Jangan Gagal Paham: Butuh Strategi dan Pendampingan Aktif
Anak-anak generasi digital memang punya potensi luar biasa, tapi tetap butuh arahan. Orang tua harus lebih cerdas, tanggap, dan berstrategi dalam mendampingi mereka—agar kecakapan digital tidak berubah jadi bumerang.
Pemanfaatan teknologi harus dibarengi pengawasan dan nilai-nilai moral agar anak tumbuh menjadi pribadi yang cakap digital, kritis, namun tetap punya empati dan batasan yang sehat.





















