dottcom.id – Luas lahan sawit tidak produktif Jambi terus bertambah dan kini menempatkan provinsi ini di jajaran teratas nasional. Dalam data terbaru tahun 2025, Jambi tercatat masuk tiga besar wilayah dengan areal sawit tidak menghasilkan terbesar di Indonesia.
Angkanya tidak kecil. Luas kebun sawit berstatus Tanaman Tidak Menghasilkan (TTM) atau rusak di Jambi mencapai 109.679 hektare. Angka ini naik dari 100.593 hektare pada 2024, menunjukkan tren yang belum berbalik.
Data tersebut bersumber dari Buku Statistik Perkebunan 2023–2025 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Posisi Jambi berada di peringkat ketiga nasional, di bawah Kalimantan Barat dan Riau.
Status Tanaman Tidak Menghasilkan bukan sekadar label administratif. Ini merujuk pada areal yang tidak mampu berproduksi, baik karena serangan hama, penyakit, kebakaran, bencana alam, maupun kesalahan dalam pengelolaan kebun. Dampaknya langsung: tidak ada kontribusi terhadap produksi sawit.
Jika dibandingkan antarprovinsi, Kalimantan Barat masih menempati posisi pertama dengan 142.259 hektare, meski angkanya menurun dari tahun sebelumnya. Riau berada di posisi kedua dengan 142.002 hektare, justru mengalami lonjakan signifikan. Jambi menyusul di posisi ketiga dengan tren kenaikan yang konsisten.
Di bawahnya, Kalimantan Tengah mencatat 70.171 hektare, turun dari tahun sebelumnya. Sementara Aceh berada di posisi kelima dengan 34.069 hektare, juga mengalami peningkatan.
Pelaksana Tugas Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, memastikan data tersebut telah melalui proses validasi berlapis, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Data yang digunakan mencakup Angka Tetap (ATAP), Angka Sementara (ASEM) 2024, serta Angka Estimasi (AESTI) 2025.
Menurut Abdul Roni Angkat, publikasi ini diharapkan menjadi acuan bagi berbagai pihak dalam memperbaiki tata kelola dan mendorong peningkatan produktivitas subsektor perkebunan.
Kondisi ini sekaligus menegaskan satu hal yang tidak bisa diabaikan: masih luasnya lahan sawit yang tidak produktif di berbagai daerah, termasuk Jambi. Jika tidak ditangani, potensi ekonomi yang seharusnya bisa dimaksimalkan justru akan terus tertahan.




















































