Terlalu Lama Scroll, Remaja Bisa Alami Gangguan Makan dan Cemas

dottcom.id – Ponsel pintar kini bukan sekadar alat komunikasi bagi remaja. Perangkat ini sudah menjelma menjadi “ruang hidup” digital—tempat mereka membangun identitas, mencari validasi, hingga mengatur gaya hidup sehari-hari.

Namun, di balik kenyamanan itu, muncul temuan yang tidak bisa dianggap sepele. Sebuah tinjauan terhadap 35 studi yang melibatkan lebih dari 52 ribu responden dengan rata-rata usia 17 tahun menunjukkan adanya kaitan kuat antara penggunaan ponsel yang berlebihan dengan gangguan makan.

Laporan yang dipublikasikan dalam JMIR Mental Health dan dikutip Senin (24/3/2026) menemukan pola yang konsisten. Remaja dengan penggunaan ponsel yang cenderung kompulsif memiliki skor lebih tinggi pada indikator gangguan makan, ketidakpuasan tubuh, hingga perilaku makan berlebihan akibat dorongan emosional.

Fase remaja menjadi titik paling rentan. Pada tahap ini, seseorang sedang membentuk jati diri, dan perbandingan sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan. Ponsel pintar mempercepat proses itu—tanpa jeda, tanpa batas.

Penulis utama studi, Dr Johanna Keeler dari King’s College London, menjelaskan bahwa paparan terus-menerus terhadap standar penampilan tertentu dapat memengaruhi cara remaja menilai diri sendiri.

“Hal ini berujung pada rendahnya rasa percaya diri dan ketidakpuasan terhadap penampilan, yang keduanya merupakan faktor risiko perkembangan gangguan makan,” ujarnya dikutip dari Study Finds.

Fenomena ini semakin diperparah oleh kondisi yang disebut Problematic Smartphone Use (PSU). Sekitar satu dari empat remaja masuk dalam kategori ini—yakni pola penggunaan yang menyerupai kecanduan, ditandai dengan rasa gelisah saat jauh dari ponsel dan kesulitan mengurangi durasi pemakaian.

Durasi penggunaan menjadi titik kritis. Remaja yang menghabiskan waktu tujuh jam atau lebih per hari di depan layar memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami gejala gangguan makan dibandingkan mereka yang hanya menggunakan sekitar dua jam.

Menariknya, penggunaan tiga hingga enam jam tidak menunjukkan lonjakan risiko yang sama tajam. Ini menunjukkan bahwa dampak serius mulai muncul ketika penggunaan sudah melewati batas ekstrem.

Masalahnya bukan hanya soal waktu, tetapi juga jenis konten yang dikonsumsi. Aplikasi kebugaran dan pelacak kalori yang terlihat sehat justru bisa menjadi pemicu perilaku obsesif, terutama bagi remaja yang sudah memiliki kecenderungan tertentu.

Di sisi lain, algoritma media sosial bekerja tanpa henti. Sistem ini akan terus menyajikan konten yang relevan dengan kebiasaan pengguna. Ketika seorang remaja mulai terpapar konten tubuh ideal atau diet ekstrem, algoritma akan memperkuat paparan tersebut secara berulang.

Professor Ben Carter dari King’s College London menilai dampak ini tidak hanya terjadi pada mereka yang sudah memiliki gangguan makan.

“Sangat jelas dari studi kami bahwa, bahkan bagi orang yang tidak memiliki diagnosis gangguan makan sekalipun, penggunaan ponsel yang berlebihan berkaitan dengan kepuasan tubuh yang buruk dan perubahan perilaku makan, yang menjadi sumber penderitaan potensial,” ujarnya.

Dalam lanskap digital yang terus berkembang, ponsel memang menawarkan kemudahan tanpa batas. Namun bagi remaja, garis antara manfaat dan risiko ternyata bisa sangat tipis—dan sering kali terlewati tanpa disadari.