Belakangan ini, semakin banyak wisatawan mapan yang memilih Malaysia dan Thailand sebagai destinasi wisata medis dibandingkan Singapura. Faktor utama yang mendorong pergeseran ini bukan hanya pengalaman belanja atau kuliner, tetapi juga layanan kesehatan yang lebih terjangkau.
Meskipun Singapura masih diakui sebagai salah satu destinasi wisata medis terbaik di Asia, negara tersebut belum mampu menyaingi Thailand, yang telah lama menjadi pusat wisata medis, serta Malaysia, yang agresif mengembangkan sektor ini dalam beberapa tahun terakhir.
Industri wisata medis secara global diperkirakan akan mencapai nilai US$79,4 miliar (Rp1.283 triliun) pada tahun 2032, menurut riset DataHorizzon Research. Wisatawan medis mencari berbagai layanan, mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin hingga prosedur kompleks seperti terapi kanker atau sel punca lutut.
Di Thailand, mayoritas wisatawan medis berasal dari Timur Tengah, sedangkan di Malaysia, sebagian besar datang dari Indonesia, China, dan India. Malaysia menjadi satu-satunya negara di antara ketiganya yang memiliki badan khusus, Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), yang didukung langsung oleh Kementerian Kesehatan setempat.
Thailand juga mengambil langkah strategis dengan memperkenalkan visa wisata medis baru pada Juni 2023, yang memungkinkan pasien tinggal hingga 180 hari. Kebijakan ini sukses meningkatkan jumlah wisatawan medis menjadi 2,86 juta pada 2023, dengan pemasukan US$850 juta (Rp13.744 triliun). Angka ini diperkirakan naik 7,3% pada 2024 menjadi 3,07 juta wisatawan medis.
Malaysia juga mencatat pertumbuhan pesat, dengan 1,26 juta wisatawan medis antara Januari-November 2023, meningkat 26% dibanding tahun sebelumnya.
Sebaliknya, Singapura mulai mengalihkan fokusnya dari wisata medis sejak 2010-an. Kritik terhadap penggunaan sumber daya publik untuk pasien asing membuat pemerintah berhenti melaporkan data wisatawan medis sejak 2015. Beberapa analis memperkirakan pendapatan wisata medis Singapura hanya berkisar S$200 juta hingga S$300 juta (Rp2,4 triliun – Rp3,6 triliun), jauh di bawah Malaysia dan Thailand.
Salah satu alasan utama menurunnya wisata medis di Singapura adalah tingginya biaya layanan kesehatan. Dolar Singapura yang kuat membuat harga perawatan di negara ini jauh lebih mahal dibanding Thailand dan Malaysia. Di dua negara tersebut, beberapa layanan kesehatan bisa didapat dengan sepertiga dari harga di Singapura.
Menurut analis Tay Wee Kuang dari CGS International, pendapatan wisata medis Singapura mungkin mencapai S$1 miliar (Rp11,98 triliun) jika dihitung dari data perusahaan seperti IHH Healthcare dan Raffles Medical Group. Namun, pertumbuhan industri ini tampak stagnan dalam lima tahun terakhir.
Para pelaku industri mengakui bahwa 20-30% pasien mereka adalah wisatawan medis, tetapi jumlah ini tidak mengalami peningkatan signifikan.
























































