Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha, melontarkan kritik tajam terhadap peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dinilainya terlalu dominan dan eksklusif dalam ekosistem riset nasional. Hal itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI bersama Kepala BRIN dan sejumlah pejabat terkait, Kamis (15/5/2025) di Gedung DPR RI, Jakarta.
Usulan Revisi UU Sistem Riset Nasional
Fasha menilai, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah memberikan kewenangan terlalu luas bagi BRIN. Ia mendorong revisi atas dua klausul penting dalam UU tersebut agar BRIN kembali berfokus pada penelitian, sementara pengembangan dan penerapan dilakukan oleh badan khusus lain sebagaimana praktik di negara maju.
“Di negara lain, badan riset hanya fokus pada penelitian. Pengembangan dilakukan oleh lembaga berbeda,” tegas Fasha.
BRIN Dinilai Tak Responsif Terhadap Isu Strategis
Fasha juga menyoroti kelemahan BRIN dalam mengantisipasi isu-isu strategis nasional, seperti hilangnya peluang pengembangan teknologi berbasis nikel. Ia menyayangkan BRIN tidak memberikan peringatan kepada pemerintah bahwa negara besar seperti Amerika dan China mulai meninggalkan teknologi berbasis nikel.
“Kalau kita tidak cepat, sebentar lagi nikel kita tidak lagi berharga,” katanya.
Dorongan Fokus ke Sektor Pertanian dan Kesehatan
Legislator dari Fraksi NasDem itu juga mendorong BRIN untuk lebih aktif dalam riset sektor pertanian dan kesehatan. Ia mencontohkan pentingnya pengembangan varietas padi unggul yang bisa dipanen setiap bulan, serta riset pengobatan penyakit seperti malaria dan diabetes.
Belajar dari Negara Lain: Fokus dan Kolaborasi
Fasha menceritakan kunjungannya ke pusat riset di Guangzhou, Tiongkok, yang memiliki struktur kolaboratif dan tidak mengambil alih fungsi lembaga lain. Ia menegaskan bahwa BRIN harus menghindari ego sektoral dan lebih mengutamakan kolaborasi antar lembaga demi mendukung visi nasional.
“Jika masing-masing sektor mengedepankan ego, maka tidak akan selesai. Ini kemunduran,” ujar Fasha.
Dengan kritik ini, Fasha berharap BRIN bisa mengevaluasi perannya dan bersikap lebih terbuka dalam bekerja sama dengan entitas riset yang telah lebih dulu berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
























































