dottcom.id – Banyak orang merasa sudah cukup menjaga kesehatan lewat pola makan dan aktivitas harian. Namun ada satu waktu yang sering diabaikan—malam hari, tepat setelah jam kerja selesai.
Pandangan ini disampaikan ahli jantung Dr Sanjay Bhojraj, MD, yang dikutip dari CNBC International, Senin (23/3/2026). Menurut Dr Sanjay, keputusan yang diambil setelah pukul 19.00 justru bisa menentukan apakah tubuh masuk ke fase pemulihan atau tetap berada dalam kondisi stres.
“Pilihan di malam hari menentukan apakah tubuh beralih ke mode perbaikan atau tetap dalam mode stres,” tuturnya.
Penyakit jantung, kata Dr Sanjay, tidak muncul tiba-tiba. Kondisi itu berkembang perlahan melalui sinyal berulang seperti tekanan darah, peradangan, pengaturan gula darah, hingga kualitas tidur.
Salah satu kebiasaan yang sering terjadi adalah makan terlalu larut. Pada malam hari, tubuh tidak lagi seefisien siang hari dalam mengolah glukosa dan lemak. Akibatnya, kadar gula darah bisa melonjak dan metabolisme terganggu, bahkan memicu peradangan.
Selain itu, pencahayaan yang terlalu terang di malam hari juga punya dampak tersendiri. Paparan cahaya, terutama dari spektrum biru, dapat menekan produksi melatonin—hormon yang berperan penting dalam mengatur tidur dan tekanan darah.
Kebiasaan lain yang tampak sepele adalah memilih tontonan. Tayangan penuh emosi seperti debat atau pertandingan bisa memicu respons stres, meningkatkan detak jantung, dan tekanan darah tepat sebelum waktu istirahat.
“Secara pribadi, saya menyukai serial yang bagus seperti orang lain. Hanya saja saya tidak menontonnya di malam hari,” jelas Dr Sanjay.
“Saya akan menyimpan drama gila orang lain untuk akhir pekan, ketika sistem saraf saya mampu menanggungnya. Meningkatkan hormon stres tepat sebelum tidur seperti menginjak pedal gas saat Anda memasuki garasi,” sambungnya.
Olahraga malam juga tidak selalu menjadi solusi. Latihan dengan intensitas tinggi justru dapat meningkatkan hormon stres dan membuat tubuh sulit masuk ke fase istirahat, sehingga kualitas tidur menurun.
Konsumsi alkohol yang kerap dianggap membantu relaksasi juga menyimpan efek sebaliknya. Secara fisiologis, alkohol dapat mengganggu fase tidur penting dan membuat detak jantung tetap tinggi saat malam.
Di sisi lain, percakapan yang memicu emosi—termasuk pertengkaran—juga berkontribusi pada lonjakan hormon stres. Dampaknya tidak hanya pada suasana hati, tetapi juga pada stabilitas sistem kardiovaskular.
“Pertengkaran di malam hari dengan istri tidak hanya merusak suasana hati. Hal itu membanjiri sistem tubuh dengan hormon stres tepat pada saat tubuh yang seharusnya beristirahat,” beber Dr Sanjay.
“Beberapa percakapan penting. Hanya saja, tidak semuanya perlu terjadi malam ini,” tambahnya.
Paparan layar tanpa batas menjadi faktor lain yang sulit dihindari. Cahaya dari ponsel dan televisi dapat menggeser ritme biologis, membuat waktu tidur semakin mundur dan kualitasnya menurun.
Gangguan tidur yang berlangsung lama diketahui berkaitan dengan berbagai risiko, mulai dari tekanan darah tinggi hingga peradangan kronis.
“Bagi saya, setelah pukul 7 malam, aturan saya sederhana: Kurangi gangguan sirkadian dan stres simpatik, dan biarkan jantung Anda pulih,” tutupnya.























































