Kepala BGN: Timnas Indonesia Sulit Menang karena Gizi Pemain Kurang Bagus

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hidayana menyoroti performa Timnas Indonesia yang dinilai masih kesulitan meraih kemenangan dalam pertandingan internasional. Menurutnya, salah satu faktor utama adalah kurangnya asupan gizi yang baik di kalangan para pemain.

“Jangan heran kalau PSSI itu sulit menang karena main 90 menit berat. Kenapa? Karena gizinya tidak bagus. Dan banyak pemain bola lahir dari kampung,” ujar Dadan dalam acara di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Sabtu (22/3).

Ia menambahkan bahwa kondisi ini mulai membaik seiring dengan masuknya pemain keturunan yang dibesarkan dengan pola makan bergizi dari luar negeri, khususnya Belanda. “Sekarang PSSI sudah agak baik karena 17 pemainnya merupakan produk makan bergizi di negeri Belanda,” imbuhnya.

Timnas Indonesia Masih Kalah Saing dengan Jepang dan Australia

Meski ada perbaikan, Dadan menegaskan bahwa Timnas Indonesia masih sulit menandingi negara-negara seperti Jepang dan Australia. Ia mencontohkan Jepang yang telah menerapkan pola makan bergizi selama lebih dari 100 tahun, sehingga berdampak pada peningkatan kecerdasan dan fisik para pemainnya.

“Apalagi Jepang yang makan bergizi sudah 100 tahun, IQ rata-rata tertinggi dunia Jepang karena makan bergizinya sudah 100 tahun,” ujarnya.

Menurut Dadan, dalam olahraga, tidak hanya kekuatan fisik yang dibutuhkan, tetapi juga kecerdasan. Ia menekankan bahwa dalam sepak bola, kecerdasan sangat diperlukan, mulai dari mengoper bola dengan akurat hingga membaca strategi lawan.

Prabowo Gelisah soal Masa Depan Generasi Muda

Selain membahas gizi pemain sepak bola, Dadan juga menyinggung pertumbuhan penduduk Indonesia yang diperkirakan akan mencapai 324 juta jiwa pada tahun 2045. Ia mengungkapkan bahwa kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin masih menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan populasi.

“Dari mana super pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih akan tumbuh 324 juta, yaitu dari keluarga miskin dan rentan miskin yang anggota rumah tangganya kelas miskin itu 4,78. Jadi kalau ada 100 keluarga miskin, 78 keluarga anaknya 3, 22 keluarga anaknya 2,” jelasnya.

Hal ini, menurut Dadan, menjadi perhatian serius bagi Presiden Prabowo Subianto yang merasa khawatir akan kualitas generasi muda di masa depan. Oleh karena itu, ia menilai bahwa pemerintah harus melakukan intervensi untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang baik sejak dini.

“Anak yang sekarang masih dalam kandungan, kemudian anak balita, anak TK, anak SD, SMP, SMA, 20 tahun kemudian ini akan menjadi tenaga kerja produktif. Kalau kita tidak intervensi, kita khawatir tenaga kerja produktif ini akan berkualitas rendah,” pungkasnya.

Pernyataan Dadan ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas gizi bukan hanya penting untuk prestasi olahraga nasional, tetapi juga untuk masa depan ekonomi dan tenaga kerja Indonesia.