Ketika berita ini ditulis, tagar “WW3” atau World War 3 menjadi salah satu trending topic di Indonesia dengan lebih dari 19.600 unggahan. Ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran luas, terutama setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025 lalu.
Respons Dunia terhadap Serangan AS ke Iran
Serangan tersebut langsung memicu respons tajam dari berbagai negara. Iran memperingatkan akan adanya balasan serius. Irak mengecam tindakan AS, sementara Rusia mengungkapkan bahwa beberapa negara siap menyuplai senjata nuklir ke Iran. Iran pun menyatakan bahwa negara yang memasok senjata ke musuhnya akan menjadi target serangan.
Pengamat: Ini Bisa Jadi Lonceng Perang Global
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Ibnu Chaldun, Ezza Habsyi, menyebut serangan ini bukan sekadar eskalasi militer, melainkan bisa menjadi “lonceng perang” yang menyulut konflik regional menjadi krisis global. Ia menyatakan, bagi Iran, balasan militer bukan hanya kemungkinan, tetapi keniscayaan politik.
Target Baru Iran: Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Ezza juga memperingatkan bahwa pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania kini menjadi target potensial. Ia menyebut Selat Hormuz—jalur vital ekspor energi dunia—dalam kondisi siaga tinggi. Penutupan jalur ini bisa mengguncang pasar global, memicu lonjakan harga energi, inflasi, dan kepanikan finansial.
Rusia dan Tiongkok Jadi Penentu Potensi Perang Dunia
Meski kemungkinan perang dunia masih dalam skenario terburuk, Ezza menilai bahwa langkah Rusia dan Tiongkok ke depan akan menjadi penentu eskalasi. Jika dua negara besar itu turut terlibat, maka risiko konflik global akan meningkat signifikan.
Sekjen PBB: Eskalasi Ini Ancam Perdamaian Dunia
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyuarakan kekhawatiran serius atas eskalasi militer yang terjadi. Ia menyebut penggunaan kekuatan oleh AS sebagai “ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional.” Guterres menyerukan kepada semua negara agar menahan diri dan memilih jalur diplomasi, bukan militer.
Trump Klaim Tak Ingin Lanjutkan Serangan ke Iran
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump disebut tidak ingin memperpanjang konflik. Menurut laporan Axios, Trump menghubungi PM Israel Benjamin Netanyahu untuk menyatakan bahwa ia ingin mengejar kesepakatan damai dengan Tehran, meski siap siaga jika ada serangan balasan dari Iran.
Indonesia Serukan Perdamaian dan Evakuasi WNI
Pemerintah Indonesia, melalui Menko Polhukam Budi Gunawan, mendorong solusi damai antara AS dan Iran. Presiden Prabowo Subianto juga memprioritaskan keselamatan WNI dengan menyiapkan skenario kontingensi. Gelombang pertama evakuasi berhasil memulangkan 29 WNI dari Iran melalui tiga penerbangan dari Baku, Azerbaijan.
Kursi Dubes Kosong, Diplomasi Indonesia Dikhawatirkan Lemah
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengkritik kekosongan kursi duta besar RI di beberapa negara strategis seperti AS dan Jerman. Ia menilai hal ini bisa melemahkan upaya diplomasi Indonesia dalam merespons cepat dinamika global yang makin tidak menentu.
























































