Tiongkok Ancam Balas Tarif Baru AS, Perang Dagang Kian Memanas

Presiden Tiongkok, Xi Jinping. (Foto: X - Xi's Moments)

Pada Minggu (2/2/2025), ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif baru sebesar 10% terhadap produk-produk Tiongkok. Langkah ini mendapat reaksi keras dari pemerintah Beijing, yang mengancam akan membalas kebijakan tersebut.

Mengapa AS Memberlakukan Tarif?
Trump menuduh Tiongkok tidak cukup menekan produksi prekursor fentanyl, bahan utama opioid yang masuk ke AS melalui Meksiko. Krisis fentanyl telah menyebabkan sekitar 70.000 kematian akibat overdosis setiap tahun, mendorong AS untuk mengambil tindakan tegas terhadap negara-negara yang dianggap berkontribusi dalam rantai pasokan obat terlarang ini.

Bagaimana Tanggapan Tiongkok?
Tiongkok mengecam kebijakan tarif tersebut dan menyatakan akan mengambil langkah balasan. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Keamanan Publik Tiongkok membantah tuduhan AS, menegaskan bahwa kebijakan anti-narkotika mereka sangat ketat. Bahkan, Tiongkok mengklaim belum menerima laporan adanya penyitaan prekursor fentanyl yang berasal dari negaranya sejak Beijing menerapkan kebijakan hukum terkait fentanyl.

Apa Dampak Tarif Baru?
Tarif baru ini dinilai berisiko memperburuk hubungan dagang kedua negara, yang sudah tegang akibat defisit perdagangan AS-Tiongkok yang hampir mencapai $1 triliun (Rp16.435 triliun) tahun lalu. Trump kerap mengkritik defisit ini sebagai ancaman ekonomi bagi AS, sehingga menerapkan tarif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dari Tiongkok.

Apa Implikasi bagi Ekonomi Tiongkok?
Ekonomi domestik Tiongkok masih dalam proses pemulihan, namun kebijakan tarif ini dapat memperlambat pertumbuhan lebih lanjut. Proyek infrastruktur besar yang didanai utang semakin menambah risiko ekonomi. Jika ekspor Tiongkok terpukul akibat kebijakan “Buy American” yang didorong Trump, maka pertumbuhan ekonomi Tiongkok bisa semakin terhambat.

Bagaimana Dampaknya terhadap Politik Global?
Langkah AS ini juga berpotensi menggagalkan ambisi Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam menjadikan negaranya sebagai kekuatan dominan di kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, hambatan ekonomi dapat memperlambat upaya Beijing dalam menguasai Taiwan, yang selama ini menjadi prioritas strategis Xi Jinping.

Sementara itu, Tiongkok berencana membawa kasus ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dengan harapan mendapatkan solusi melalui jalur hukum internasional. Namun, dengan meningkatnya ketegangan, banyak pihak khawatir perang dagang AS-Tiongkok akan semakin berkepanjangan dan berdampak luas terhadap ekonomi global.