Generasi Z di China menghadapi tekanan ekonomi yang memaksa mereka menjalani pola hidup ekstrem demi mengejar stabilitas keuangan.
Dengan biaya hidup yang terus meningkat, sejumlah anak muda rela bangun pukul 4 pagi dan menjalani empat pekerjaan sekaligus untuk menabung hingga 60.000 yuan atau sekitar Rp130 juta per tahun.
Fenomena ini kian marak di tengah ketatnya persaingan kerja dan melonjaknya harga properti di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai.
Generasi muda ini menjalani gaya hidup minimalis untuk mengurangi pengeluaran.
Mereka memanfaatkan pekerjaan paruh waktu seperti pengemudi pengantar makanan, tutor privat, hingga pekerja di sektor digital.
Seorang pemuda, Chen Li (23), mengaku bekerja hampir 16 jam sehari.
“Saya tahu ini melelahkan, tapi ini satu-satunya cara untuk mencapai tujuan finansial saya,” ujar Chen.
Ia menghabiskan hari-harinya dengan bergantian antara pekerjaan paruh waktu dan pekerja lepas di bidang desain grafis.
Para ahli melihat fenomena ini sebagai refleksi dari ketidakstabilan ekonomi yang dirasakan generasi muda.
“Tekanan ini bukan hanya tentang mencari uang, tetapi juga menghadapi tantangan masa depan yang tidak pasti,” kata Wang Mei, seorang sosiolog.
Meskipun begitu, gaya hidup ini juga menuai kritik karena dianggap mengorbankan kesehatan dan keseimbangan hidup.
Namun, bagi Gen Z di China, pilihan ini menjadi jalan keluar untuk mengejar mimpi di tengah tuntutan ekonomi yang semakin berat.
Fenomena ini menjadi cerminan perjuangan generasi muda menghadapi realitas ekonomi modern yang penuh tantangan, tetapi juga menuntut inovasi dan pengorbanan besar.
























































