dottcom.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Kamis (8/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 0,11 persen atau turun 18 poin ke level Rp16.798 per dolar Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah muncul seiring respons pasar terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya sektor tenaga kerja. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai perkembangan terbaru menunjukkan kondisi ekonomi Negeri Paman Sam yang cenderung lebih kuat dari perkiraan. “Perkembangannya menunjukkan tanda-tanda yang lebih tinggi dari perkiraan, seiring membaiknya aktivitas bisnis di sana,” ujar Ibrahim.
Penguatan sentimen tersebut salah satunya tercermin dari indeks aktivitas jasa. Purchasing Managers’ Index sektor jasa versi Institute for Supply Management tercatat naik dari 52,6 menjadi 54,4. Capaian ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya berada di kisaran 52,3.
Di sisi lain, laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) pada November 2025 mencatat penurunan jumlah lowongan pekerjaan. Angkanya turun dari 7,44 juta pada Oktober 2025 menjadi 7,14 juta pada bulan berikutnya. Meski demikian, data ketenagakerjaan berbasis Automatic Data Processing (ADP) justru menunjukkan peningkatan penggajian sektor swasta, dari 29.000 pekerjaan pada November 2025 menjadi 41.000 pekerjaan pada Desember 2025.
Ibrahim menilai angka tersebut memang masih berada di bawah proyeksi pasar. “Namun, itu sudah menunjukkan stabilisasi pada perekrutan tenaga kerja menjelang akhir tahun,” ucap Ibrahim.
Ke depan, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis klaim pengangguran mingguan serta laporan penggajian tenaga kerja nonpertanian atau Non-Farm Payrolls. Ibrahim menilai dinamika sektor tenaga kerja berpotensi memengaruhi pergerakan aset global. “Laporan sektor tenaga kerja di AS berpotensi mendorong kenaikan kembali harga emas jika pasar tenaga kerja memburuk,” ujar Ibrahim.
Selain faktor data ekonomi, pasar global juga mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan energi Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan langkah untuk mengendalikan perusahaan minyak milik Venezuela, Petróleos de Venezuela SA (PdVSA), seiring meningkatnya pengaruh bisnis minyak AS di negara tersebut.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh data cadangan devisa. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan posisi bulan sebelumnya.























































