Sebuah patung penyu yang semula berdiri gagah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Gadobangkong, Pelabuhanratu, Sukabumi, kini menjadi sorotan publik.
Patung yang rampung pada September 2024 ini mendadak mengalami kerusakan parah.
Ironisnya, proyek megah tersebut dibangun dengan anggaran fantastis mencapai Rp15,6 miliar.
Kondisi dan Material Patung
Fakta mengejutkan muncul saat diketahui patung yang menjadi ikon Alun-Alun Gadobangkong ternyata dibuat dari material yang tidak sesuai ekspektasi.
Berdasarkan unggahan video akun Instagram @sukabumi_satu pada 4 Maret 2025, patung tersebut mengalami kerusakan di beberapa bagian, menimbulkan dugaan bahwa strukturnya dibuat dari kardus bekas dan bambu, bukan material permanen yang seharusnya.
BJIRR 15.6 MILIAR DER
— Kegoblogan.Unfaedah (@kegblgnunfaedh) March 4, 2025
Sebuah patung penyu raksasa di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Alun-alun Gado Bangkong, Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, viral di media sosial setelah ditemukan dalam kondisi rusak.
Dalam video yang beredar, bagian punggung patung tampak terkelupas,… pic.twitter.com/vI01JIbSrM
Reaksi Publik dan Netizen
Kondisi patung yang rusak memicu kemarahan netizen.
Tak sedikit yang mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran yang mencapai Rp15,6 miliar.
Komentar pedas pun berdatangan, termasuk ejekan yang menyamakan patung tersebut dengan “kardus Indomie”.
Bahkan, banyak yang mendesak klarifikasi dari pihak Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, yang akun medsosnya sudah lama tidak aktif sejak Juli 2021.
Klarifikasi Kontraktor
Di tengah gelombang kritik, pihak kontraktor memberikan penjelasan.
Mereka mengakui penggunaan kardus hanya sebagai media penempel bagi bahan utama seperti resin dan fiberglass.
Kontraktor menegaskan bahwa anggaran Rp15,6 miliar tersebut belum termasuk pajak, sehingga dana bersih yang digunakan sekitar Rp13 miliar.
Meski begitu, klarifikasi ini belum memuaskan sebagian publik yang menganggap patung seharusnya lebih tahan lama.
Tanggapan Netizen dan Harapan Publik
Meski sudah ada penjelasan dari kontraktor, netizen tetap meragukan keandalan material yang digunakan.
Mereka mempertanyakan mengapa, jika bahan utamanya adalah resin dan fiberglass, patung tersebut masih menunjukkan kerusakan dalam waktu singkat.
Kini, masyarakat menanti respons konkret dari Bupati Sukabumi terkait masalah ini, agar tidak menjadi kisah proyek mahal yang berujung mengenaskan.


















































