Hasto Wardoyo, kepala BKKBN, menuai sorotan publik atas pernyataannya tentang target baru BKKBN: setiap pasangan di Indonesia harus melahirkan minimal satu anak perempuan.
Alasan di balik target ini adalah penurunan angka kelahiran di Indonesia. Jika tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan populasi Indonesia akan punah di masa depan.
Hasto Wardoyo mengungkapkan bahwa tingkat kelahiran di Indonesia, atau fertility rate, mengalami penurunan yang berkelanjutan selama satu dekade terakhir. Saat ini, tingkat kelahiran mencapai 2,18, jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 1970-an, di mana rata-rata pasangan suami istri memiliki 6 hingga 9 anak karena tingkat kelahiran yang sangat tinggi, yaitu 5,6.
Penurunan angka kelahiran bagaikan bom waktu bagi masa depan suatu negara. Jika dibiarkan tanpa solusi, konsekuensi serius akan menanti, seperti:
- Kepunahan Populasi: Masa depan bangsa terancam punah jika tren ini terus berlanjut. Generasi penerus semakin sedikit, berisiko memicu kepunahan populasi di masa depan.
- Kemerosotan Ekonomi: Kekurangan tenaga kerja produktif dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan berujung pada kemiskinan. Negara pun akan kesulitan mencapai kemajuan ekonomi.
- Transformasi Sektor Kerja: Struktur dunia kerja akan dipaksa bertransformasi untuk beradaptasi dengan populasi yang menua. Hal ini bisa memicu perubahan besar di berbagai sektor.
- Penurunan Pendapatan Negara: Kurangnya tenaga kerja muda yang produktif dapat berakibat pada berkurangnya pemasukan pajak negara. Keuangan negara pun akan terbebani.
- Dominasi Lansia: Populasi lansia yang semakin banyak akan membebani sistem kesehatan dan jaminan sosial. Keseimbangan generasi akan terganggu dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan.
Penurunan angka kelahiran bukan sekadar masalah individu, melainkan krisis yang membutuhkan solusi kolektif dari seluruh elemen bangsa. Solusi komprehensif dan berkelanjutan harus segera dirumuskan untuk menyelamatkan masa depan bangsa dari ancaman kepunahan dan kemunduran.
Menanggapi tren penurunan angka kelahiran, Hasto Wardoyo, Kepala BKKBN, mengumumkan target baru untuk mendorong kelahiran anak perempuan. Ia meyakini bahwa target ini dapat membantu regenerasi bangsa di masa depan. Kebijakan ini nantinya akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di setiap daerah. “Karena kalau anaknya dua lebih dikit maka hampir dipastikan 1 perempuan akan melahirkan anak 1 perempuan,” tambahnya.
Baru-baru ini, akun Instagram @bundsteutic, yang dikenal menyuarakan suara perempuan, mengunggah ulang pernyataan Kepala BKKBN tentang target agar setiap pasangan memiliki minimal satu anak perempuan. Pernyataan ini menjadi viral dan menuai beragam komentar dari netizen.
Beberapa pihak mendukung target tersebut, namun banyak juga yang meminta BKKBN untuk mempertimbangkan kembali. Alasannya, memiliki anak bukanlah hal yang mudah. Diperlukan banyak persiapan, baik secara mental, fisik, maupun finansial.
Demikian informasi terbaru mengenai target BKKBN agar setiap pasangan memiliki minimal satu anak perempuan. Apakah kamu setuju dengan rencana ini?


















































