dottcom.id – Ketegangan dalam perang Iran AS hari ke-26 belum menunjukkan tanda mereda. Serangan masih berlangsung di berbagai titik kawasan Teluk dan Asia Barat, sementara klaim soal jalur diplomasi justru memunculkan tanda tanya baru.
Di tengah situasi yang terus memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai gencar menyuarakan kemungkinan penghentian konflik lewat jalur perundingan. Pernyataan itu muncul setelah hampir sebulan pertempuran berlangsung sejak serangan awal ke Teheran pada 28 Februari 2026.
Trump menyebut Iran telah membuka ruang diplomasi, bahkan diklaim bersedia menghentikan produksi senjata nuklir. Washington juga disebut menerima “hadiah” terkait Selat Hormuz. Namun, pernyataan ini tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan.
Alih-alih mereda, aktivitas militer justru tetap intens. Iran terus meluncurkan rudal dan memperkuat pertahanan, menandakan fokus utama masih pada operasi tempur, bukan negosiasi.
Laporan dari berbagai sumber juga menunjukkan adanya upaya diplomasi yang belum solid. Pemerintah AS disebut telah mengirimkan 15 poin kesepakatan yang melibatkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dengan fasilitasi pihak militer Pakistan.
Namun, respons dari Teheran cenderung dingin. Pernyataan pejabat Iran bahkan secara terbuka meragukan klaim negosiasi tersebut. Juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari menyindir langsung Trump.
“Apakah tingkat konflik internal Anda telah mencapai titik di mana Anda bernegosiasi dengan diri Anda sendiri?”
Sindiran itu mencerminkan jurang perbedaan narasi antara kedua pihak. Iran memang disebut bersedia mendengar proposal, tetapi menolak keterlibatan tokoh tertentu seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff.
Di sisi lain, langkah Washington juga memperlihatkan sinyal yang bertolak belakang dengan wacana damai. Pemerintah AS dilaporkan bersiap mengirim sekitar 3.000 pasukan darat dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan Teluk dalam waktu dekat.
Sementara itu, eskalasi serangan terus meluas ke berbagai negara. Di Iran, serangan terbaru dilaporkan menewaskan 12 orang, termasuk di wilayah sipil seperti permukiman dan sekolah di Teheran Timur.
Kuwait mengalami serangan drone yang menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional, menyebabkan kerusakan fasilitas meski tanpa korban jiwa. Arab Saudi juga menjadi sasaran, dengan puluhan drone dan rudal balistik diarahkan ke wilayah timur yang menjadi pusat industri minyak.
Dalam rentang 11 jam, otoritas Saudi mengklaim berhasil menembak jatuh 32 proyektil. Namun, tekanan tetap terasa di kawasan yang menjadi jantung energi global tersebut.
Korban jiwa juga tercatat di Bahrain, di mana seorang pekerja asal Maroko tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Iran. Di Lebanon dan Irak, situasi tak kalah genting akibat rangkaian serangan lanjutan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 33 orang tewas dalam 24 jam terakhir. Di Irak, serangan terhadap pangkalan paramiliter di Anbar menewaskan 15 orang, memicu respons dari kelompok yang didukung Iran.
Israel juga memperkeruh situasi dengan mengklaim penguasaan wilayah sepanjang 30 kilometer di perbatasan Lebanon. Wilayah itu disebut sebagai “zona keamanan” untuk menghadapi Hizbullah.
Dampak konflik ini mulai terasa lebih luas, tidak hanya di medan perang. Ketidakstabilan harga minyak kini mendorong sejumlah negara mengambil langkah darurat energi.
Filipina telah menetapkan status darurat, sementara Sri Lanka mulai melakukan penghematan dengan mematikan lampu jalan dan pembatasan penggunaan energi lainnya.
Di tengah rangkaian peristiwa ini, arah konflik masih sulit ditebak. Narasi diplomasi dan realitas di lapangan berjalan berlawanan, membuat peluang de-eskalasi belum benar-benar terlihat.





















































