DLH Kota Jambi Uji Coba Sistem Jemput Sampah ke Rumah di 67 RT

Kepala DLH Kota Jambi, Ardi

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang langsung menjemput sampah dari rumah warga. Sistem ini sedang diuji coba di 67 rukun tetangga (RT) sebagai wilayah percontohan.

Dikutip dari Antara Jambi, Kepala DLH Kota Jambi, Ardi, mengatakan uji coba ini melibatkan komunitas warga yang dibentuk dari satu hingga empat RT, tergantung jumlah penduduk di masing-masing wilayah. Komunitas ini bertugas mengambil sampah dari rumah ke rumah sesuai jadwal yang telah ditentukan.

“RT ataupun komunitas akan membentuk operator pemungut sampah. Ketua RT sangat berperan dalam menggerakkan masyarakat agar sistem ini berjalan,” ujar Ardi saat ditemui, Rabu (4/6/2025).

Program Rp100 Juta per RT untuk Sarana Sampah

Untuk mendukung program ini, setiap RT percontohan akan menerima anggaran sebesar Rp100 juta. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan alat angkut sampah, tempat pemilahan, dan fasilitas pendukung lainnya.

Setiap rumah juga akan diberikan dua tempat sampah gratis berkapasitas 5 liter—masing-masing untuk sampah organik dan anorganik—agar warga terbiasa melakukan pemilahan sejak dari rumah.

Minimalkan Penumpukan Sampah di TPS

Sistem baru ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Penampungan Sementara (TPS). Dengan pemilahan dan penjemputan langsung, sampah diharapkan tidak lagi menumpuk di TPS dan bisa langsung dibawa ke tempat pemrosesan akhir atau daur ulang.

“Dengan sistem ini, sampah tidak bercampur dan bisa langsung diangkut oleh petugas sesuai jenisnya. Tidak ada lagi alasan TPS penuh,” jelas Ardi.

Rata-rata 364 Ton Sampah per Hari

DLH Kota Jambi mencatat, rata-rata volume sampah di Kota Jambi mencapai 364 ton per hari. Oleh karena itu, sistem jemput langsung ini diharapkan bisa menjadi solusi efektif untuk mengatasi permasalahan sampah yang terus meningkat.

DLH telah menyosialisasikan program ini ke forum RT dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) untuk memperkuat pemahaman dan kerja sama antarwarga.

“Kami berharap seluruh sampah yang ada di Kota Jambi dapat terselesaikan pengambilannya oleh komunitas. Ini bukan sekadar sistem baru, tapi cara hidup baru,” tutup Ardi.