DOTTCOM.ID, Jakarta – Isu TB anak dan paparan rokok menjadi sorotan pada peringatan Hari Anak Nasional. Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menilai tuberkulosis masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak Indonesia, dengan angka kematian mencapai 17 orang setiap jam.
Dalam diskusi di X-Space, kedua organisasi menegaskan penanganan TB dan pengendalian rokok perlu menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Menurut mereka, perhatian publik terhadap penyakit TB masih belum sebanding dengan besarnya dampak yang ditimbulkan.
Data TB dunia tahun 2024 mencatat terdapat 135 ribu kasus TB pada anak usia 0-14 tahun di Indonesia. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dengan kasus tuberkulosis terbanyak. Di sisi lain, jumlah anak yang aktif merokok mencapai 5,9 juta orang.
Gerakan Save Our Surrounding (SOS) menyebut kondisi tersebut memperberat upaya penanganan TB karena paparan asap rokok dapat melemahkan sistem saluran pernapasan sehingga meningkatkan risiko infeksi berkembang menjadi TB aktif.
Dokter Anak Shela Putri Sundawa mengatakan paparan asap rokok, baik dari rokok konvensional maupun rokok elektrik, sama-sama berdampak buruk terhadap kesehatan paru-paru anak.
“Mau rokok elektrik, vape, atau rokok konvensional akan membuat paru-paru menjadi tidak bagus, tidak baik. Risiko seseorang terkena TB menjadi lebih mudah,” katanya, Kamis 23 Juli 2026.
Shela menjelaskan anak yang hidup di keluarga perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB. Bagi anak yang memiliki kontak erat dengan pasien TB, terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) dapat diberikan untuk menurunkan risiko penyakit, dengan jenis terapi disesuaikan berdasarkan usia dan kondisi pasien.
Menurut Shela, asap rokok memang tidak secara langsung menyebabkan infeksi TB, tetapi dapat mengganggu saluran pernapasan, menurunkan status gizi, mengurangi nafsu makan, serta menghambat proses penyembuhan.
“Pasien yang sembuh dari TB tetap berisiko terkena penyakit paru lain apabila terus merokok atau kena asap rokok, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK),” ujar Shela.
Shela juga mendorong pemerintah memperluas akses layanan diagnosis dan pengobatan TB, terutama pemeriksaan laboratorium untuk TB ekstra paru yang masih sulit dijangkau masyarakat di daerah terpencil.
“Akses pemeriksaan di daerah terpencil masih perlu dipermudah. Seperti dukungan pembiayaan, riset, pengembangan vaksin,” katanya. Shela berharap vaksin TB agar segera diuji di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IYCTC Manik Marganamahendra mengungkapkan jumlah perokok aktif di Indonesia telah mencapai 77 juta orang. Manik menilai promosi rokok yang masih mudah dijumpai di berbagai media, papan reklame, hingga warung membuat anak-anak semakin rentan terpapar iklan.
“Ini permasalahan yang genting dan perlu segera ditangani secara serius. Promosi rokok masih mudah diakses anak-anak, dan masyarakat umum,” katanya.
Manik menambahkan budaya merokok masih dianggap sebagai hal yang normal, padahal sekitar 600 ribu orang meninggal setiap tahun akibat rokok, lebih banyak dibandingkan korban Covid-19 selama tiga tahun.
Berdasarkan riset Universitas Indonesia bersama Imperial College London, sebanyak 78,4 persen rumah tangga di Indonesia tercemar asap rokok. Menurut Manik, kondisi tersebut menunjukkan perlunya perluasan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), termasuk di lingkungan anak.
Manik menilai Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan telah mengatur perlindungan anak, termasuk larangan iklan rokok dalam radius 500 meter dari sekolah dan penjualan rokok dalam radius 200 meter. Namun, implementasi aturan tersebut masih perlu diperkuat.
“Ini tanggung jawab pemerintah. Makanya, koordinasi lintas kementerian untuk penanganan rokok dan penyakit TB harus jadi tanggung jawab bersama bukan Kementerian Kesehatan saja,” ujarnya.
Ketua Yayasan STPI Donal Pardede mengatakan pendekatan penanganan TB kini lebih menitikberatkan pada pencarian kasus secara aktif melalui skrining langsung di masyarakat agar penderita lebih cepat ditemukan dan rantai penularan dapat diputus.
Donal menilai komitmen eliminasi TB perlu diperkuat hingga tingkat provinsi, kabupaten, dan kota agar target nasional dapat tercapai.
“Semangat komitmen eliminasi TB bukan hanya besar di pusat, tapi juga harus turun pada level tingkatan provinsi, kabupaten atau kota, agar ini target eliminasi TB tercapai,” katanya.
Data Kementerian Kesehatan tahun 2025 memperkirakan terdapat 1.092.000 kasus TB setiap tahun di Indonesia. Donal mengingatkan TB anak kerap terlambat terdiagnosis karena gejalanya tidak spesifik sehingga sering dianggap sebagai penyakit biasa.
“Begitu dignosa telat, risiko terbesar bukan sakit, tapi juga mengganggu tumbuh kembang fisik dan kognitif di masa emas anak. Ini akibat menganggap sepele berat badan susah naik atau demam oleh orang tua,” katanya.
Donal berharap seluruh anak Indonesia dapat tumbuh tanpa ancaman TB.
“Anak-anak tidak lagi kehilangan masa depan atau nyawa akibat penyakit, yang seharusnya bisa diobati dan dicegah.”





















































