Gangguan Tumbuh Kembang Anak Bisa Jadi Tanda Penyakit Jantung Bawaan

DOTTCOM.ID – Gangguan tumbuh kembang anak tidak selalu disebabkan kurangnya asupan nutrisi. Dokter mengingatkan kondisi tersebut juga dapat menjadi tanda adanya penyakit yang mendasari, termasuk penyakit jantung bawaan yang memerlukan penanganan sejak dini.

Dokter Spesialis Anak Siloam Heart Hospital, dr. Ambarsari MSc., Sp.A, mengatakan pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua indikator utama yang mencerminkan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh. Karena itu, orang tua dianjurkan rutin memantau keduanya melalui pemeriksaan berkala agar penyimpangan dapat segera diketahui.

“Tumbuh kembang anak dapat dipantau melalui dua aspek, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan meliputi berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala yang dibandingkan dengan kurva pertumbuhan seusai usia. Sedangkan perkembangan dinilai dari kemampuan motorik, bahasa, hingga interaksi sosial anak,” jelas dr. Ambarsari, MSc., Sp.A.

Menurut dr. Ambarsari, MSc., Sp.A, pada aspek pertumbuhan orang tua perlu waspada apabila berat badan anak tidak bertambah, tinggi badan berada di bawah standar usianya, atau ukuran lingkar kepala terlalu kecil (mikrosefali) maupun terlalu besar (makrosefali).

Sementara pada aspek perkembangan, tanda bahaya dapat terlihat ketika bayi usia 3–6 bulan belum mampu menegakkan kepala, belum tersenyum, atau belum memberikan respons terhadap orang lain. Pada usia 9–12 bulan, anak belum mampu duduk tanpa bantuan, belum merangkak, atau tidak merespons saat dipanggil. Memasuki usia 18 bulan, anak belum dapat berjalan sendiri dan mengalami keterlambatan bicara, seperti memiliki kosakata kurang dari 10 kata.

“Kasus yang paling sering kami temukan pada gangguan pertumbuhan adalah berat badan yang sulit naik. Sedangkan pada gangguan perkembangan, keterlambatan bicara menjadi masalah yang cukup banyak dijumpai,” ujarnya.

Gangguan tumbuh kembang anak memang kerap berkaitan dengan nutrisi yang kurang optimal. Namun penyebab lainnya juga dapat berupa kurangnya stimulasi, infeksi berulang, gangguan penyerapan nutrisi akibat masalah pencernaan, bayi prematur, berat badan lahir rendah, cerebral palsy, hingga kelainan genetik.

“Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin cepat pula intervensi yang tepat dapat diberikan sehingga peluang anak mencapai tumbuh kembang yang optimal menjadi lebih besar,” dr. Ambarsari, MSc., Sp.A.

Salah satu penyebab yang sering luput dari perhatian adalah penyakit jantung bawaan atau Congenital Heart Disease, yakni kelainan struktur jantung sejak lahir yang memengaruhi fungsi normal jantung.

“Kami cukup sering menangani bayi yang datang dengan keluhan sesak napas sejak lahir, tampak kebiruan, atau memiliki kadar oksigen rendah saat dilakukan pemeriksaan.”

Pada anak dengan penyakit jantung bawaan, jantung bekerja lebih keras sehingga membutuhkan energi lebih besar. Kondisi tersebut menyebabkan energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh justru dipakai mempertahankan fungsi jantung. Akibatnya, berat badan sulit bertambah dan anak mudah lelah saat menyusu atau makan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini juga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan berulang. Orang tua perlu segera memeriksakan anak apabila mengalami napas cepat atau terengah-engah saat beristirahat, mudah lelah, sering tersedak saat menyusu, berat badan sulit bertambah, pertumbuhan dan perkembangan terhambat, infeksi saluran pernapasan berulang, bibir atau ujung jari tampak kebiruan, serta ujung jari membulat.

Deteksi dini penyakit jantung bawaan dapat dilakukan sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan USG janin pada usia 18–20 minggu. Setelah lahir, bayi menjalani skrining pulse oximetry sekitar usia 24 jam untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Selama masa balita, pemeriksaan rutin juga dilakukan dengan mendengarkan bunyi jantung menggunakan stetoskop.

Selain pemeriksaan berkala, orang tua dianjurkan memberikan nutrisi seimbang, membiasakan aktivitas fisik, membatasi makanan tinggi gula dan garam, mengurangi screen time, menghindarkan anak dari paparan asap rokok maupun rokok elektronik, memastikan imunisasi lengkap, serta memenuhi kebutuhan tidur anak.

“Apabila orang tua menemukan adanya tanda bahaya pada tumbuh kembang anak, jangan menunda untuk berkonsultasi ke dokter. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, peluang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal akan semakin baik,” dr. Ambarsari, MSc., Sp.A.

Apabila memerlukan penanganan lanjutan, Siloam Heart Hospital menyediakan layanan Pediatric Cardiology yang didukung kolaborasi dokter spesialis anak dan dokter spesialis jantung serta pembuluh darah, lengkap dengan pemeriksaan diagnostik, terapi, hingga tindakan kardiologi intervensi sesuai kebutuhan medis.