Jakarta – Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan dinamika tahun politik domestik, Pasar Modal Indonesia menunjukkan ketangguhannya sepanjang 2024.
Hal ini tercermin dari berbagai indikator positif seperti stabilitas pasar, aktivitas perdagangan, dan peningkatan jumlah investor ritel.
Dalam acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2024, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, mengapresiasi sinergi pemangku kepentingan yang berhasil menjaga pertumbuhan pasar modal di tengah tantangan.
“Berkat kerja sama yang kuat, kita tidak hanya bertahan, tetapi juga mencatat berbagai capaian positif yang mendukung stabilitas pasar modal Indonesia,” ujar Inarno, Senin (30/12).
IHSG ditutup di level 7.036,57, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp12.191 triliun, naik 5,05 persen year-to-date (ytd).
Aktivitas penghimpunan dana juga mencatatkan rekor, dengan total Rp251,04 triliun dari 187 penawaran umum, termasuk 35 emiten baru.
Sementara itu, pasar modal syariah juga mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp6.759,54 triliun.
Jumlah investor ritel terus meningkat, mencapai 14,81 juta Single Investor Identification (SID), didominasi generasi muda di bawah usia 40 tahun.
Inisiatif perdagangan karbon yang diluncurkan pada 2023 juga mencatatkan transaksi 908.018 ton CO2 ekuivalen, dengan total nilai mencapai Rp50,64 miliar.
OJK terus memperkuat ekosistem pasar modal melalui kebijakan strategis, seperti penerbitan berbagai POJK untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, dan penguatan pasar.
Selain itu, BEI meluncurkan produk derivatif baru, seperti Single Stock Futures (SSF) dan Kontrak Berjangka Indeks Asing (KBIA), untuk memperluas variasi investasi.
Dengan pencapaian ini, OJK optimis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.





















































