China menghadapi krisis demografis yang serius akibat kebijakan satu anak yang diterapkan selama beberapa dekade.
Kebijakan ini, ditambah dengan preferensi budaya untuk anak laki-laki, telah menyebabkan ketidakseimbangan gender yang signifikan.
Menurut data terbaru, terdapat sekitar 34 juta lebih pria dibandingkan wanita di China.
Ketidakseimbangan ini telah menciptakan fenomena yang dikenal sebagai “pria sisa” atau “shengnan” (剩男), yaitu pria yang kesulitan menemukan pasangan hidup.
Salah satu dampak dari ketidakseimbangan ini adalah kenaikan mahar pernikahan yang drastis.
Dalam beberapa dekade terakhir, mahar pernikahan di beberapa daerah di China telah meningkat hingga 16 kali lipat.
Menurut laporan, di provinsi Henan, mahar pernikahan yang sebelumnya berkisar antara 10.000 hingga 20.000 yuan (sekitar 21 juta hingga 42 juta rupiah) kini bisa mencapai 160.000 hingga 200.000 yuan (sekitar 336 juta hingga 420 juta rupiah).
Kenaikan ini disebabkan oleh persaingan yang ketat di antara pria untuk mendapatkan pasangan, mengingat jumlah wanita yang jauh lebih sedikit.
Selain itu, banyak wanita muda di China yang memilih untuk tidak menikah atau menunda pernikahan.
Menurut survei terbaru, sekitar 30% wanita di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai memilih untuk tetap melajang atau menunda pernikahan hingga usia 30-an.
Hal ini semakin memperburuk situasi bagi pria yang mencari pasangan.
Pemerintah China telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah ini, termasuk melonggarkan kebijakan satu anak menjadi kebijakan tiga anak pada tahun 2021.
Namun, upaya ini belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengurangi ketidakseimbangan gender atau menurunkan biaya mahar pernikahan.
























































