Daerah  

Di Balik Megahnya Sungai Batanghari, Ada Ancaman yang Sulit Dihentikan

Ilustrasi: dottcom.id

dottcom.id – Sungai Batanghari bukan sekadar aliran air panjang di Pulau Sumatera. Di balik bentangnya yang mencapai 775 kilometer, sungai ini menyimpan cerita panjang—tentang kehidupan, sejarah, sekaligus ancaman yang makin nyata hari ini. Namun kini, perhatian tak lagi hanya soal panjangnya, melainkan soal kerusakan Sungai Batanghari akibat tambang ilegal yang terus meluas.

Aliran sungai ini bermula dari Pegunungan Bukit Barisan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dari titik hulu tersebut, air mengalir mengikuti jalur sesar Sumatera, berbelok di Solok Selatan, lalu terus menuju timur hingga bermuara di Selat Berhala. Sepanjang perjalanan itu, ratusan mata air dari lereng gunung—termasuk Gunung Kerinci, Gunung Tujuh, hingga Gunung Masurai—ikut menyumbang debit air.

Tak hanya itu, keberadaan danau seperti Danau Di Atas, Danau Kerinci, dan Danau Gunung 7 ikut memperkuat sistem aliran. Semua itu terhubung dalam satu jaringan besar yang dikenal sebagai daerah aliran sungai atau DAS Batanghari, dengan luas mencapai 44.247,7 km² atau sekitar 9,34 persen Pulau Sumatera.

Wilayah DAS ini mencakup 15 kabupaten dan kota. Lebih dari 60 persen wilayah Provinsi Jambi berada di dalamnya. Dari Batang Gumanti, Batang Sangir, hingga Batang Tebo—ratusan anak sungai bermuara ke satu arus utama: Batanghari.

Di bagian hilir, tepatnya di Desa Simpang, Kecamatan Berbak, aliran sungai ini terbelah dua. Satu mengarah ke utara sejauh 44 km, satu lagi menjadi Sungai Berbak sepanjang 64 km. Di Kota Jambi, perubahan alur alami sungai bahkan melahirkan Danau Sipin—danau tapal kuda yang kini jadi habitat berbagai ikan seperti lambak, lais, hingga udang galah.

Sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu, sungai ini sudah menjadi tulang punggung kehidupan. Kerajaan Sriwijaya, Melayu, hingga Dharmasraya memanfaatkan Batanghari sebagai jalur transportasi dan sumber air. Jejaknya masih bisa dilihat di Kompleks Candi Muaro Jambi yang berdiri tak jauh dari aliran sungai.

Di era sekarang, peran itu belum berubah. Sungai ini masih dilalui perahu warga hingga kapal tongkang pengangkut batu bara. Lebarnya yang mencapai 300–500 meter dan debit air sekitar 1.887 m³ per detik membuatnya tetap vital bagi sekitar 3 juta penduduk yang tinggal di wilayah DAS Batanghari.

Masalahnya muncul ketika aktivitas manusia mulai melampaui batas.

Di sejumlah titik, terutama di Sungai Batang Tebo di Kabupaten Bungo dan Tebo, kerusakan terlihat jelas. Tepian sungai dikeruk, tanah dibalik, bahkan alur sungai berubah. Aktivitas tambang emas ilegal menjadi biang utama.

Hasil riset Universitas Andalas menemukan fakta yang sulit diabaikan: Sungai Batang Tebo telah tercemar logam berat, terutama merkuri. Kandungan Hg di air sudah melewati ambang batas. Zat ini digunakan untuk memisahkan emas dari material lain—dan dampaknya langsung ke lingkungan.

Akibatnya, sebagian warga tak lagi berani menggunakan air sungai. Mereka memilih membeli air bersih, sesuatu yang dulu tak pernah terpikirkan.

Data dari KKI Warsi hingga akhir 2023 mencatat kerusakan yang tak kecil: 3.642 hektar hutan lindung, 6.917,7 hektar hutan produksi, 84 hektar hutan produksi terbatas, serta 699 hektar kawasan taman nasional rusak akibat tambang emas ilegal.

Masalah ini ternyata bukan hanya di hilir. Di bagian hulu, seperti di Solok Selatan, kondisi serupa juga terjadi. Ekskavator, mesin pompa, hingga alat gali manual beroperasi di sepanjang sungai. Tebing-tebing dikeruk, bentuk alami sungai perlahan hilang.

Dampaknya berantai. Erosi memicu sedimentasi, sungai menjadi dangkal, air keruh, dan risiko banjir hingga longsor meningkat. Data Walhi hingga Oktober 2024 mencatat ada 49 titik tambang ilegal seluas 1.612,66 hektar di empat kabupaten.

Yang bikin situasi terasa makin absurd, konflik bahkan merembet ke aparat.

Pada akhir November 2024, seorang Kasat Reskrim Polres Solok Selatan ditembak mati oleh sesama polisi. Peristiwa itu terjadi setelah penangkapan pelaku tambang ilegal. Korban ditembak dua kali di bagian wajah—pelipis kanan dan pipi kanan.

Peristiwa itu bukan sekadar tragedi. Ia membuka gambaran yang lebih dalam: betapa rumit dan berlapisnya persoalan tambang ilegal di wilayah DAS Batanghari.

Sungai yang dulu jadi urat nadi peradaban, kini justru menanggung beban yang tak ringan. Dan kalau pola ini terus dibiarkan, yang hilang bukan cuma kualitas air—tapi juga masa depan wilayah yang bergantung padanya.