dottcom.id – Pergerakan ranking FIFA terbaru menghadirkan kontras tajam di Asia Tenggara. Indonesia naik perlahan, sementara Malaysia justru terjun bebas dalam satu rilis yang sama.
Mengutip CNN Indonesia.com, Senin (23/3/2026), Timnas Indonesia naik satu tingkat ke posisi 121 dunia dengan koleksi 1.144,73 poin. Kenaikan ini memang tipis, tetapi cukup untuk menggeser posisi Malaysia yang sebelumnya berada di level tersebut.
Di sisi lain, Malaysia mengalami penurunan yang tidak main-main. Tim Harimau Malaya kini berada di peringkat 135 dunia setelah kehilangan 14 posisi sekaligus.
Penurunan itu bukan tanpa sebab. Sanksi dari FIFA dan AFC menjadi pemicu utama setelah terungkap kasus pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain naturalisasi Malaysia.
Putusan dari Court of Arbitration for Sport (CAS) memperkuat sanksi yang dijatuhkan FIFA kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Dampaknya langsung terasa di lapangan.
Dua kemenangan Malaysia di Kualifikasi Piala Asia 2027, termasuk laga melawan Nepal, dibatalkan. AFC kemudian menetapkan hasil 0-3 untuk dua pertandingan tersebut.
Konsekuensinya lebih jauh dari sekadar angka di papan skor. Peluang Malaysia tampil di putaran final Piala Asia 2027 pun lenyap.
Di tengah situasi itu, peta kekuatan Asia Tenggara ikut bergeser. Thailand masih bertahan sebagai tim terbaik di kawasan dengan menempati peringkat ke-95 dunia dan mengoleksi 1.243,27 poin.
Vietnam menyusul di posisi kedua ASEAN dengan menempati peringkat ke-103. Kenaikan lima tingkat yang diraih Vietnam terasa seperti keuntungan tak langsung dari sanksi yang menimpa Malaysia.
Dengan perubahan ini, persaingan di kawasan menjadi semakin terbuka. Indonesia mulai mendekat, Malaysia justru tertinggal, sementara Vietnam mengambil momentum.
Di level global, posisi puncak ranking FIFA per Maret 2026 masih dikuasai Spanyol dengan 1.877,18 poin. Argentina berada di urutan kedua, diikuti Prancis di posisi ketiga, tanpa perubahan berarti di papan atas.
Bagi Indonesia, kenaikan satu peringkat mungkin terlihat kecil. Namun dalam konteks kawasan, itu cukup untuk mengubah peta—dan menunjukkan bahwa pergeseran bisa datang dari arah yang tak terduga.






















































