Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, menanggapi kabar aksi premanisme yang kerap mengganggu investasi di sektor otomotif, khususnya pabrik kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
Moeldoko mengatakan, selain pabrik mobil listrik asal China, pabrik EV VinFast asal Vietnam yang berada di Subang, Jawa Barat, juga pernah diganggu oleh organisasi kemasyarakatan (ormas).
Moeldoko Imbau Masyarakat Dukung Iklim Investasi yang Kondusif
Moeldoko menambahkan bahwa masyarakat setempat seharusnya turut membantu menciptakan situasi yang kondusif bagi para investor yang membuka peluang lapangan pekerjaan.
Dalam situasi ekonomi yang sedang lesu, ia mengimbau agar masyarakat mendukung iklim investasi yang sehat untuk menghindari peningkatan pengangguran.
Pemerintah Diminta Tindak Tegas Aksi Premanisme di Dunia Usaha
Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, sebelumnya juga mengungkapkan bahwa pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, juga diganggu oleh premanisme.
Meski tak menyebut nama ormas, Eddy meminta pemerintah untuk bertindak tegas terhadap pelaku yang merusak iklim investasi di Indonesia.
“Pemerintah perlu menindak tegas perusakan iklim investasi ini,” kata Eddy dalam unggahan Instagramnya.
Pabrik VinFast Mulai Beroperasi dengan Nilai Investasi Rp3,23 Triliun
VinFast, pabrik kendaraan listrik asal Vietnam, telah memulai pembangunan pabrik perakitan EV pertamanya di Indonesia sejak Juli tahun lalu.
Pabrik ini berlokasi di kawasan industri yang berkembang di Subang, Jawa Barat, dengan total investasi sebesar US$200 juta (sekitar Rp3,23 triliun).
Kapasitas Produksi Pabrik VinFast Capai 50.000 Unit per Tahun
Pabrik VinFast di Indonesia direncanakan untuk beroperasi dengan kapasitas produksi tahunan sebanyak 50.000 unit kendaraan.
Pabrik ini mencakup beberapa area produksi utama, termasuk body shop, general assembly shop, paint shop, serta area pengujian, dan akan memproduksi model VF5 dan VFe34 yang sudah dipasarkan di Indonesia.
























































