dottcom.id – Fenomena batu bara yang terbakar tanpa tersulut api, atau dikenal sebagai self-combustion, sering kali mengejutkan banyak orang. Namun, fenomena ini memiliki penjelasan ilmiah yang cukup jelas.
Dikutip dari greenchem.co.id, Self-combustion terjadi karena reaksi oksidasi pada batu bara.
Batu bara mengandung karbon sebagai mineral utama, serta hidrogen, belerang, dan oksigen sebagai mineral sekunder.
Ketika batu bara tersingkap di permukaan atau ditimbun dalam waktu lama, reaksi oksidasi antara oksigen di udara dan komponen batu bara yang mudah terbakar menghasilkan panas.
Self-combustion dapat menyebabkan kebakaran hebat di area stockpile, yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan.
Debu dari asap batu bara dapat menyebabkan polusi udara dan gangguan kesehatan seperti iritasi mata dan masalah pernapasan.
Selain itu, perusahaan juga mengalami kerugian finansial akibat penurunan kualitas batu bara dan biaya tambahan untuk penanganan kebakaran.
Untuk mengatasi self-combustion, beberapa langkah yang dapat diambil antara lain, Mengurangi tinggi timbunan batu bara dapat mengurangi efek angin dan oksidasi serta Menggunakan metode FIFO untuk memastikan batu bara yang lebih lama disimpan digunakan terlebih dahulu
Dengan memahami penyebab dan cara mengatasi self-combustion, diharapkan risiko kebakaran batu bara dapat diminimalisir, sehingga lingkungan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.



























