Sains  

Hidup di Mars Bisa Ubah Manusia Jadi “Spesies Baru”, Ini Faktanya

dottcom.id – Gagasan manusia tinggal di Mars sering dibayangkan sebagai lompatan besar peradaban. Namun di balik ambisi itu, ada konsekuensi yang jauh lebih dalam—tubuh manusia sendiri bisa berubah.

Pandangan ini muncul dalam buku terbaru karya ahli biologi evolusi Scott Solomon berjudul Becoming Martian: How Living in Space Will Change Our Bodies and Minds, yang dikutip Senin (23/3/2026). Selama bertahun-tahun, Solomon meneliti bagaimana kehidupan di luar Bumi berpotensi membentuk ulang manusia, bukan hanya dari sisi sosial, tetapi hingga ke tingkat biologis.

Manusia saat ini merupakan hasil adaptasi panjang terhadap kondisi Bumi. Tubuh dan otak terbentuk mengikuti atmosfer, gravitasi, radiasi, hingga siklus siang dan malam. Ketika manusia keluar dari lingkungan itu secara permanen, arah evolusi bisa berubah total.

Di Mars, tantangannya langsung terasa. Gravitasi hanya sekitar 38 persen dari Bumi, paparan radiasi jauh lebih tinggi, dan lingkungan mikroba hampir tidak ada. Dalam jangka pendek saja kondisi ini sudah berat, apalagi jika berlangsung lintas generasi.

“Hewan di pulau-pulau – dan saya berpendapat bahwa planet pada dasarnya hanyalah pulau-pulau raksasa di langit – mereka sering kali menjadi lebih besar atau lebih kecil seiring berjalannya waktu. Ada kemungkinan hal ini bisa terjadi pada kita,” kata Solomon kepada IFLScience.

Dalam kondisi sumber daya terbatas, tubuh manusia berpotensi beradaptasi menjadi lebih kecil. Ukuran tubuh yang lebih kecil dianggap lebih efisien karena membutuhkan lebih sedikit makanan, air, udara, dan ruang.

“Dalam pemukiman antariksa, kemungkinan besar sumber dayanya akan terbatas dan individu yang bertubuh lebih kecil membutuhkan lebih sedikit sumber daya, lebih sedikit air, lebih sedikit makanan, lebih sedikit udara, dan lebih sedikit ruang, sehingga ada keuntungan jika menjadi lebih kecil, terutama pada tahun-tahun pertama pemukiman,” tambahnya.

Masalah tidak berhenti di situ. Lingkungan dengan gravitasi rendah dapat melemahkan tulang dan otot. Eksperimen di Stasiun Luar Angkasa Internasional menunjukkan penurunan kepadatan tulang dan atrofi otot, kondisi yang berpotensi lebih kompleks jika dialami sejak masa pertumbuhan.

Solomon menilai dampaknya bisa lebih serius pada anak-anak. Proses pembentukan tubuh yang berlangsung di lingkungan gravitasi rendah berisiko menghasilkan struktur tulang dan otot yang tidak optimal.

Persoalan lain muncul pada proses kelahiran. Solomon memperkirakan operasi caesar akan menjadi metode utama di Mars, dan hal ini bisa memicu perubahan evolusi baru.

“Hal ini menciptakan sebuah skenario menarik di mana jika semua kelahiran adalah kelahiran dengan operasi caesar, maka kepala tidak lagi terkendala karena harus masuk melalui jalan lahir, yang telah menjadi kendala sepanjang evolusi manusia. Seiring dengan evolusi nenek moyang kita, otak kita menjadi lebih besar dan kepala kita menjadi lebih besar, namun kemudian ada batas atas seberapa besar kepala tersebut bisa tumbuh karena kita masih harus memasukkan kepala melalui jalan lahir. Jika tidak demikian lagi, kepala dapat berevolusi menjadi lebih besar,” jelas Solomon.

Perubahan juga bisa terlihat dari luar. Tingginya radiasi di Mars membuka kemungkinan evolusi pada pigmen kulit. Melanin, yang selama ini melindungi manusia dari radiasi UV, bisa berkembang berbeda atau bahkan memunculkan karakteristik baru.

“Salah satu skenarionya adalah pigmen berevolusi untuk membuat kita menjadi lebih gelap atau muncul pigmen baru yang mengubah warna kulit. Jika Anda ingin memikirkan bagaimana kita bisa terlihat seperti alien fiksi ilmiah, ada beberapa skenario yang masuk akal,” ujarnya.

Ada satu aspek yang kerap luput dari perhatian: mikroba. Sistem kekebalan tubuh manusia sangat bergantung pada interaksi dengan beragam mikroorganisme. Di luar Bumi, keseimbangan ini terganggu.

Astronaut diketahui mengalami penurunan fungsi imun di luar angkasa. Pada saat yang sama, bakteri yang ikut terbawa bisa beradaptasi menjadi lebih agresif. Kombinasi ini berisiko, terutama bagi generasi yang lahir dan tumbuh di lingkungan dengan paparan mikroba yang sangat terbatas.

Kondisi tersebut membuat perjalanan pulang ke Bumi menjadi tidak sederhana. Tubuh yang berkembang di lingkungan steril bisa kesulitan menghadapi keragaman mikroba di planet asalnya.

Bagi Solomon, tantangan ini masih sering diremehkan. Padahal, faktor biologis bisa menjadi penentu utama apakah manusia benar-benar mampu hidup lintas planet.

“Saya tidak mengatakan kita tidak boleh pergi. Faktanya, saya pikir pada akhirnya ada alasan bagus untuk mencoba, tapi saya rasa kita belum siap,” simpul Solomon.