Kabar membanggakan datang dari Sidang ke-19 Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) di Asuncion, Paraguay.
Pada 3-4 Desember 2024, UNESCO resmi menetapkan kebaya Indonesia dan seni tradisional Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dunia.
Ketua Tim Nasional Kebaya Indonesia, Lana T. Konetjoro, menyampaikan pengumuman ini sebagai tonggak penting dalam pelestarian budaya bangsa.
Lana, yang berperan sebagai pengusul Hari Kebaya Nasional, menjelaskan bahwa proses pengajuan kebaya sebagai WBTB dimulai sejak 2022 atas arahan Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Pengakuan ini juga didukung oleh Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Kebaya Nasional.
Setelah ditetapkan sebagai WBTB UNESCO, kebaya kini semakin memperkokoh identitas budaya Indonesia di kancah global.
Tim Nasional Kebaya Indonesia berencana membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kebaya.
Sebagai bentuk selebrasi, perayaan serentak akan digelar di berbagai kota.
Sementara itu, Reog Ponorogo mendapatkan pengakuan dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding, menandai pentingnya pelestarian seni budaya ini.
Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Mohamad Oemar menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut.
Reog Ponorogo, seni pertunjukan yang sarat nilai sejarah dan keberanian, kini menjadi simbol solidaritas masyarakat Ponorogo, Jawa Timur.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa pengakuan UNESCO adalah langkah besar untuk menjaga seni tradisional Indonesia.
Dengan tambahan dua warisan ini, Indonesia kini memiliki 14 budaya takbenda yang diakui UNESCO, termasuk Wayang, Batik, dan Angklung.
Pengakuan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan dan menghormati warisan budaya bangsa yang kaya akan nilai dan makna.

























