Tokoh  

Hilmar Farid: Sejarawan, Aktivis, dan Pengajar yang Memimpin Kebudayaan Indonesia

Pada tanggal 31 Desember 2015, Hilmar Farid, B.A., M.A., Ph.D., dilantik sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan Indonesia, menggantikan Kacung Marijan yang telah menjabat selama 4,5 tahun. Ia merupakan orang pertama yang menduduki posisi direktur jenderal dari latar belakang non-pegawai kementerian.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Hilmar lahir di Bonn, Jerman Barat, pada 8 Maret 1968. Ia adalah anak dari Agus Setiadi, seorang penerjemah buku cerita anak.Pada tahun 1993, Hilmar menyelesaikan studi di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dengan judul skripsi “Politik, Bacaan, dan Bahasa Pada Masa Pergerakan: Sebuah Studi Awal.” Setelah lulus, ia mengajar di Institut Kesenian Jakarta selama 4 tahun.

Karier Organisasi

Hilmar mendirikan Jaringan Kerja Budaya bersama beberapa seniman, peneliti, aktivis, dan pekerja budaya di Jakarta pada tahun 1994. Ia juga memimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia hingga 2007. Saat ini, Hilmar masih bertindak sebagai ketua dewan pembina organisasi nirlaba tersebut dan menjadi Ketua Perkumpulan Praxis sejak 2012. Selain itu, ia aktif di Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan Inter-Asia Cultural Studies Society sebagai editor.

Karya Tulis

Pada tahun 2012, Hilmar meluncurkan buku berjudul “Kisah Tiga Patung.” Selain itu, disertasinya di National University of Singapore pada bulan Mei 2014 berjudul “Rewriting the Nation: Pramoedya and the Politics of Decolonization” membahas kajian budaya.